Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Mei 2019

'Expecto Patronum', Cahaya dalam Depresi

Gangguan kesehatan jiwa terjadi dalam pikiran si penderita, tapi seperti kata Dumbledore, itu bukan berarti tidak nyata.

Seorang teman mengirim pesan pendek kepada saya setelah saya sering menulis pengakuan di media sosial soal gangguan kecemasan dan depresi yang saya derita. Dia bilang, “Kamu membuat dirimu terlihat lemah. Kenapa mesti ngaku depresi sih? Nanti kamu kelihatan nggak kompeten dan nggak waras. Mencari perhatian siapa sih?”

Stigma semacam itulah yang membuat mereka yang mengalami depresi makin tertekan. Kita mengalami depresi bukan karena kita lemah, tapi karena kita sudah bertahan begitu lama menanggung beban.

Bagi orang yang tidak pernah mengalami depresi, memang sulit memahami apa yang ada di dalam benak penderitanya. Berusaha menjelaskan depresi kepada orang yang tak pernah mengalaminya, seperti berusaha menjelaskan warna pada orang buta.

Salah satu bacaan untuk memahami seperti apa hantu bernama depresi itu adalah melalui satu seri buku terbaik abad ini: Harry Potter. Penulisnya, J.K. Rowling, yang pernah mengalami depresi, membuat metafora yang sangat baik tentang hal itu, yaitu dementor, makhluk penjaga Penjara Azkaban. Kini, coba bayangkan dementor sebagai depresi. Dia menyedot habis kebahagiaanmu. Sayangnya, dalam dunia nyata kita tidak bisa mengulurkan tongkat sihir, menyerukan “Expecto Patronum!” agar Patronus atau makhluk pelindung datang menjaga kita dari “isapan” dementor.

Harry Potter tidak pernah terang-terang dijelaskan menderita depresi. Namun ada dialog yang amat saya sukai ketika Harry “mati” lalu bertemu kembali dengan Dumbledore dalam film Harry Potter and the Deathly Hallows bagian 2, dan Harry bertanya, apakah dia harus kembali hidup.

Harry Potter: I have to go back, haven’t I?

Albus Dumbledore: Oh, that’s up to you.

Harry Potter: I have a choice?

Albus Dumbledore: Oh, yes. We’re in King’s Cross, you say? I think if you so desired, you’d be able to board a train.

Harry Potter: And where would it take me?

Albus Dumbledore: On.

Harry Potter: Voldemort has the Elder Wand.

Albus Dumbledore: True.

Harry Potter: And the snake’s still alive.

Albus Dumbledore: Yes.

Harry Potter: And I’ve nothing to kill it with.

Albus Dumbledore: “Help would always be given at Hogwarts to those who deserve it.” Do not pity the dead, Harry. Pity the living. And above all, those who live without love.

Harry Potter: Professor? Is this all real? Or is it just happening inside my head?

Albus Dumbledore: Of course it’s happening inside your head, Harry. Why should that mean that it’s not real?

“Tentu saja ini semua terjadi di kepalamu, Harry, tapi ini bukan berarti tidak nyata, kan?”

Gangguan kesehatan jiwa terjadi dalam pikiran si penderita, tapi seperti kata Dumbledore, itu bukan berarti tidak nyata. Penyakit itu nyata. Depresi, gangguan kecemasan, bipolar, PTSD (Kelainan Stres Pasca Trauma), skizofrenia, dan lain-lain itu nyata. Penderita gangguan kesehatan jiwa harus menghadapi “Voldermort” sepanjang penyakitnya.

Bantuan selalu ada di Hogwarts untuk mereka yang mereka mau mencari dan layak mendapatkannya. Itulah yang harus dicari oleh mereka yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Kita harus menemukan Hogwarts kita sendiri. Ada orang yang mendapatkan Hogwarts-nya melalui terapi ke dokter kesehatan jiwa/psikiater, ada yang bisa merasa “dibersihkan” dengan meditasi dan yoga, ada yang cukup dengan konsultasi dengan psikolog. Hogwarts saya adalah psikiater. Patronus saya adalah konsultasi dengan psikiater dibantu obat antidepresan dan anticemas.

Saya berterus terang dan terbuka mengakui bahwa saya menderita gangguan kecemasan dan depresi. Tapi sejujurnya, tidak mudah bagi saya untuk mengakui bahwa saya harus ke dokter kesehatan jiwa. Saya mulai berobat sejak 2012, dan selama bertahun-tahun saya diam dalam penderitaan penyakit saya sendirian.

Dalam dua tahun terakhir saya lebih terbuka berbicara kepada teman-teman dan keluarga tentang bagaimana berkonsultasi dengan psikiater membantu saya. Meskipun saya tahu obat membantu, sesekali saya masih merasa “malu” karena harus minum obat untuk bisa berfungsi normal dalam hidup. Namun, ajaibnya, sejak saya berterus terang, saya malah bisa lebih produktif. Saya bisa bekerja lebih baik dan menjalani hidup yang lebih berkualitas.

Setelah saya membuka diri, beberapa teman juga ikut terbuka dengan menyatakan bahwa dia juga mengalami perjuangan yang sama. Ada pula yang bercerita tentang depresinya, perjuangannya, dan obat-obatan yang harus diminumnya. Kami sakit bukan karena ingin menarik perhatian atau kurang bersyukur, kami sakit karena memang ada yang salah dalam sistem otak dan kejiwaan kami, dan itu bisa disembuhkan.

Hidup dengan penyakit kesehatan jiwa -- depresi, gangguan cemas, dll -- adalah tentang mengatur keseimbangan. Prozac, Zoloft, Cipralex, atau selusin obat antidepresan apa pun tidak akan membuat saya sembuh, jika saya juga tidak mau berusaha menyeimbangkan fisik dan pikiran. Dokter saya pernah bilang begini, “Obat hanya membantu, tapi kamu lah yang membuat dirimu untuk sembuh. Kalau kamu begini terus, kita bisa menghabiskan seumur hidup untuk terapi.”

Ada kalanya hal-hal seperti: “Tidur teratur pada jam normal; makan makanan sehat, sayuran dan buah; bangun pagi dan bergerak; olahraga; keluar ruangan agar kena sinar matahari; dan mandi” adalah tindakan yang sangat sulit buat saya, padahal itu adalah bagian dari keseimbangan fisik. Bernalar dengan otakmu saat dia mulai kehilangan nalarnya. Ketika monster datang ke dalam pikiranmu, tetaplah berani. Dan jika ada yang harus kau benci, bencilah pada depresimu. Bukan benci pada dirimu sendiri.

Depresi adalah perjuangan panjang menghadapi monster yang terpenjara dalam ruangan gelap di sisi terdalam pikiran kita. Berbagi cerita dan pengalaman adalah suatu cara agar kita tahu bahwa kita tidak sendirian di ruangan itu. Dan, dalam ruang gelap depresi itu, saya selalu mengingat kata-kata Albus Dumbledore dari Harry Potter dan Tawanan Azkaban:

“Kebahagiaan dapat ditemukan, bahkan di masa-masa terkelam sekalipun, hanya jika seseorang ingat untuk menyalakan cahaya. "



By Hetih Rusli

Tulisan ini di copas dari https://magdalene.co/story/expecto-patronum-cahaya-dalam-depresi



Minggu, 12 Agustus 2018

Menyikapi Masukan dan Saran

Pernah sekaliii saja seumur saya hidup sampai saat ini (dan saya berharap cukup sekali saja), saya dipertemukan dengan seseorang yang memberi masukan, tapi dia ngambek ketika saya tidak melakukan apa yang dia mau. Pengen ketawa aja sih, yah namanya jg masukan, tidak harus selalu dituruti kan. Orang lain hanya sebagai pemberi masukan, bukan berarti setiap masukan itu harus dituruti bukan? Setiap masukan jg pasti ada konsekuensi positif dan negatifnya, sehingga bijaksanalah dalam memilih yang terbaik.

Dan ingat, kehidupan manusia, sejak dari zaman Pleistosen sampai zaman now, tidak ada satupun kehidupan yang sama. Setiap manusia menjalani kehidupannya secara berbeda, dengan pengalaman, reference dan background yang tidak sama. Sidik jari pun tidak ada yang sama bukan? Jadi jangan menyamaratakan atau membuat penilaian berdasarkan standarisasi pribadi.

Kisah Tukang Ikan dan Papan Kayunya

Jadi kisahnya diawali seperti ini. Konon ada seorang pedagang ikan di pinggir jalan. Pedagang ikan itu membuka lapak kios kecil, kemudian di kios tersebut ada papan kayu bertuliskan, “JUAL IKAN SEGAR DI SINI.” Pada hari pertama, ada seorang yang datang kepada penjual ikan itu dan mengatakan, “Pak, kenapa harus pakai kata DISINI? Kan semua orang tahu bapak jualan ikan di sini, bukan di sana?” Kata orang tersebut sambil menunjuk ke seberang jalan.

Si Penjual ikan berpikir, kemudian berkata dalam hati, “benar juga ya.” Kemudian si tukang ikan itu pun menghapus kata DISINI sehingga tulisan di papan tersebut menjadi, “JUAL IKAN SEGAR.” Hari kedua datang lagi orang lain ke kiosnya. Orang yang baru datang itu kemudian berkata, “Kenapa harus pakai kata SEGAR? Toh semua orang tahu yang bapak jual itu ikan segar, bukan ikan busuk?” Karena berpikir lagi bahwa hal itu benar, maka kata segar pun dihapus dan menjadi, “JUAL IKAN”

Hari ketiga datang orang lain lagi. Dia bilang, “Kenapa Bapak tulis ikan? Semua orang tahu bahwa yang bapak tawarkan adalah ikan dan cuma ikan. Bukan kucing dan juga anjing.” Mendengar hal tersebut, si tukang mengangguk-ngangguk dan kemudian hanya menulis kata “JUAL” di papan kayunya. Sampai keesokan harinya, ada lagi orang yang bahkan memberikan masukan, “Mengapa bapak memasang papan? Semua orang tahu bahwa bapak sedang berjualan, bukan sedang pameran atau bagi-bagi gratis.” Akhirnya dibuanglah papan kayu tersebut dan si penjual ikan tidak memasang tanda apapun yang menunjukkan bahwa dirinya sedang menjual ikan yang sangat segar. Beberapa hari kemudian bisnis orang itu bangkrut karena tidak ada satu pun orang yang menyadari bahwa dia sedang berjualan ikan segar di lapaknya.

Kita mungkin tertawa atau tersenyum simpul ketika membaca cerita tersebut. Kok bodoh sekali ya ada orang yang seperti itu? Tetapi coba renungkan kembali, jangan-jangan diri kita juga seperti itu? Maka di sini ada 4 hal yang harus diperhatikan dalam menanggapi saran dan masukan dari orang lain.



1. Open Mind dan Tawadhu
Open mind artinya kita terbuka terhadap masukan, tidak bersikap resisten terhadap kritik (kecuali jika memang sedang lomba debat, hehe..) dan rendah hati. Sikap terbuka terhadap saran merupakan sarana penting untuk membuka diri kita terhadap perbaikan-perbaikan. Mereka yang tertutup cenderung tidak mau mendengar dan merasa bahwa yang sudah dilakukannya adalah yang paling benar. Jika seperti ini, jangankan menjalankan saran, menerimanya saja sulit.



2. Good listeners listen with ears, Great listeners listen with heart
Masukan sudah diterima, tetapi ingat bahwa pendengar yang hebat tidak hanya mendengarkan dengan telinganya, tetapi juga dengan hatinya. Maksudnya adalah saring masukan-masukan orang tersebut dan pikirkan secara lebih jernih dan matang. Terima dulu, kemudian saring mana yang bermanfaat untuk pengembangan diri dan mana yang tidak. Contoh kasus si tukang ikan adalah hanya mendengarkan dengan telinga, tetapi tidak menggunakan hati dan mempertimbangkan untuk perkembangannya sehingga malah merugikan dirinya sendiri.



3. Kita tidak akan pernah memuaskan semua orang
Tetapkan mana saran dan kritik yang ingin diambil, dan tidak usah memusingkan pilihan yang lain. Asalkan kita yakin bahwa saran tersebut baik untuk kita agar bisa terus berkembang. Kenapa begitu? Karena kita tidak akan bisa memuaskan semua orang sampai kapan pun. Hanya diri kita yang tahu mana yang terbaik untuk diri kita. Orang lain hanya sebagai pemberi masukan, bukan berarti setiap masukan itu harus dituruti bukan? Setiap masukan juga pasti ada konsekuensi positif dan negatifnya, sehingga bijaksanalah dalam memilih yang terbaik.




4. Be the best version of you!

Apa sih manfaat kritik dan saran itu? Hanya satu: agar kita dapat memberi yang terbaik dari diri kita. Jadi, selama saran itu justru malah menghancurkan dan membuat diri kita semakin lambat berkembang, justru sebaiknya dievaluasi dan dipikirkan kembali. Seperti contoh kasus tukang ikan. Jika Anda menjadi seperti pedagang itu, apa yang akan Anda lakukan? Be the best version of you and great result will follow.


Semoga bermanfaat dan menginspirasi !

Sabtu, 04 Agustus 2018

Salah Ucap, Bisa Berarti "Masalah"

Kalimat
"Dibunuh golok"
atau
"Dibunuh pake golok"

Dua kalimat itu bisa bermakna ganda, serupa tapi tak sama.
Dimana "Dibunuh golok" (bisa bermakna: dibunuh oleh si golok. Si golok disini sebagai subjek/ pelaku kejahatan. Si golok yang bersalah), sedangkan
"Dibunuh pake golok" (bisa bermakna: dibunuh menggunakan golok. Aka yang ngebunuh bukan si golok tapi si golok hanya merupakan Objek yang dipakai oleh si pelaku kejahatan. Si goloknya enggak bersalah).

Kasusnya mungkin hampir serupa dengan kasus beberapa waktu lalu. Enggak berusaha mengungkit ataupun membela yah, hanya menjadikan contoh.
Bahwa kita harus berhati-hati dengan kata-kata yang keluar dari mulut ataupun jempol kita, karena kata-kata yg keluar itulah yang akan diterima oleh orang lain. Baik itu maksudnya memang seperti itu, ataupun tidak bermaksud seperti itu.
Kita enggak bisa kan bilang bahwa salah satu pihak terlalu "sensitif"... yaa karena memang kata-kata yang keluar seperti itu kok, meskipun si sumber (komunikator) mengatakan dia tidak bermaksud seperti itu, tapi penerima (komunikan) kan tidak tahu dan tidak akan langsung percaya apakah benar maksudnya seperti itu atau tidak. (Kebanyakan dari kita kan gak bisa baca pikiran atau hati orang lain. Dalamnya laut bisa dicari tahu, dalamnya hati orang siapa yang tau... cieeehhh naha jadi kadieu 😋)

Dan camkan, KATA-KATA YANG SUDAH KELUAR TIDAK DAPAT DITARIK KEMBALI (hanya bisa dimaafkan atau dilupakan, itupun kalo yang denger mau 😋).

Jika tidak ingin menjadi masalah, ada beberapa pilihan, diantaranya (ini menurut saya loh ya):
Pertama, lebih teliti kata/ kalimat yg akan diucapkan.
Kedua, bersikap kesatria dengan mau mengakui kesalahan dan meminta maaf bahkan bila harus di muka umum, atau bahkan menjalani hukuman yang lebih berat (😖😖😖 oh nooo!!!).
Atau yang ketiga, (kalo kamu sadar belum bisa berkata-kata yang benar dan yakin gak bakalan menyakiti hati dan "peurasaan" orang lain) mending diem aje deh... hehe daripada jadi masalah... Ner nggak 😋😉

sumber : just my irmagination

Mencoba Ikut Kuis Apakah Saya Seorang Empath

Ketika saya mencari tahu tentang apa itu Empath, terdapat link untuk mengetes apakah kita seorang empath atau bukan. Ini linknya http://www.empathconnection.com/quiz.html

 Ada sekitar 10 pertanyaan dalam bahasa Inggris yang harus dijawab. Dan ini hasil yang saya kerjakan, ini hanya contoh loh ya :)

Here are your Quiz RESULTS:

Thank you for taking the EmpathConnection.com QUIZ!
Please know that these are not scientific results, and that this quiz is designed to help you understand your current skill level and pursue further information and learning.
Intuitive empath coach
Dr. Michael R. Smith
YOU SCORED AS:
An Awakening Empath:

You are now awakening to your gifts of perceiving the energy and emotions of other people.

You are learning to embrace your empathic and intuitive abilities rather than consider them a curse, and are learning techniques and tools to empower yourself. 

If you're an awakening empath, you will generally have the following traits:

* You are a good listener, & other people may 'dump' their stories on you.
* You feel emotions deeply and cry easily, often for no reason.
* You have good intuition, especially when it comes to other people. You can 'just know' about someone, especially if they are lying to you.
* You may often become over-stimulated in public places like malls.
* You may attract the wrong partners (e.g. often narcissistic).
* You may isolate yourself from others to hide from perceiving pain.
You would be encouraged to continue learning coping skills and techniques so that the negative energy of other people doesn’t overwhelm you (e.g. Dr. Michael Smith's free guidebook and audio & weekly empath lessons).

You may also want to find a spiritual teacher and mentor to help you refine your abilities to perceive other people.

The Differences Between Highly Sensitive People and Empaths

Empaths share all the traits of what Dr. Elaine Aron has called “Highly Sensitive People,” or HSPs.

These include: a low threshold for stimulation; the need for alone time; sensitivity to light, sound, and smell; and an aversion to large groups.
It also takes highly sensitive people longer to wind down after a busy day, since their ability to transition from high stimulation to being quiet is slower.
Highly sensitive people are typically introverts, while empaths can be introverts or extroverts (although most are introverts).
Empaths share a highly sensitive person’s love of nature and quiet environments, their desire to help others, and their rich inner life.

However, empaths take the experience of the highly sensitive person much further: We can sense subtle energy (called shakti or prana in Eastern healing traditions) and actually absorb it from other people and different environments into our own bodies.
Highly sensitive people don’t typically do that. This capacity allows us to experience the energy around us, including emotions and physical sensations, in extremely deep ways.

And so we energetically internalize the feelings and pain of others — and often have trouble distinguishing someone else’s discomfort from our own. Also, some empaths have profound spiritual and intuitive experiences — with animals, nature, or their inner guides — which aren’t usually associated with highly sensitive people.

Being a highly sensitive person and an empath are not mutually exclusive: One can be both, and many highly sensitive people are also empaths.

If you think about this distinction in terms of an empathic spectrum, empaths are on the far end; highly sensitive people are a little further in; people with strong empathy who are not HSPs or empaths are in the middle; and narcissists, sociopaths, and psychopaths who have “empath-deficient disorders” are at the far opposite end.


The Empathic Spectrum

Narcissists               Loving empathic people           HSPs                  Empaths
___i____________________i____________________i______________i__     

                        
The gifts of sensitivity and empathy are precious. We want to keep opening our hearts and break through to new heights in the empathic spectrum. We need these gifts now more than ever.


Adapted from The Empath’s Survival Guide by Judith Orloff, M.D.
psychologytoday.com

Rabu, 01 Agustus 2018

Lidah Memang Tak Bertulang - Jagalah Lisanmu

Dari Abu Darda bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada sesuatu yang paling berat timbangannya bagi mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang bagus. Dan sesungguhnya Allah membenci orang yang buruk tutur katanya dan jorok (cabul).” (Abu Dawud dan Turmudzi).

Dari Jabir bin Abdullah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kamu dan paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat adalah yang paling bagus akhlaknya. Dan sesungguhnya yang paling aku benci di antara kamu dan paling jauh tempatnya dariku pada hari kiamat adalah orang yang banyak bicara tanpa manfaat, yang banyak bicara dibuat-buat, dan memenuhi mulutnya dengan segala macam perkataan (tak berbobot).” (Turmudzi].

Dari diri kita yang paling harus dijaga dalam bergaul dengan masyarakat adalah lidah kita. Tidak sedikit orang celaka karena tidak mampu mengontrol perkataannya.

Mu’adz bin Jabal r.a. diajarkan langsung tentang hal itu oleh Rasulullah saw. “Senangkah kamu jika aku beritahukan apa yang menguasai (mencukupi) itu semua?” Mu’adz menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah saw.” Rasulullah saw. bersabda, “Tahanlah olehmu ini!” Rasulullah saw. menunjuk lidahnya. Mu’adz berkata, “Wahai Nabiyullah, apakah kita akan dituntut dengan apa yang kita ucapkan?” Rasulullah saw. menjawab, “Celakalah kamu, wahai Mu’adz, bukankah manusia dapat tersungkur ke dalam neraka hanya karena kata-kata yang keluar dari lidahnya?”

Karena itu, menjaga lidah bukan hanya selamat diri dari kemarahan orang yang mendengar, tetapi juga selamat dari siksa neraka. Sahal bin Sa’ad Al-Sa’idi r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang menjamin (memelihara) untukku apa yang ada di antara kedua kakinya dan apa yang ada di antara kedua janggutnya (lidahnya), aku menjamin baginya (masuk) surga.” (Bukhari)

Uqbah bin ‘Amir r.a. berkata, “Wahai Rasulullah, di manakah tempat keselamatan itu?” Rasulullah menjawab, “Tahanlah lidahmu, rumahmu meski mencukupimu dan menangislah atas segala kesalahanmu.” (Turmudzi dan Silsilah Shahihah)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengucapkan kata-kata yang baik atau diam.” (Bukhari dan Muslim).[Mochamad Bugi, 20 Rambu Dalam Hidup Bermasyarakat, dakwatuna.com 14/5/2008 | 09 Jumadil Awal 1429 H].

Banyak orang yang ketika berbicara karena tidak pandainya memilih kata dan kalimat yang baik sehingga yang keluar adalah kalimat yang menyakitkan sehingga membuat orang tersinggung, antipasti bahkan mungkin marah. Maka hal yang terbaik dikala tidak pandai berbicara adalah diam, sebagai mana kualitas orang yang diam itu sama dengan emas, yang banyak bicara dinyatakan sebagai logam.

Rasulullah sendiri dengan tegas melarang kita banyak bicara yang sia-sia.
"Janganlah kamu sekalian memperbanyak bicara selain berdzikir kepada Allah, sesungguhnya memperbanyak perkataan tanpa dzikir kepada Allah akan mengeraskan hari, dan sejauh-jauh manusia adalah yang hatinya keras." (HR. Turmudji)

 Kita lihat banyak orang berbicara tapi ternyata tidak mulia dengan kata-katanya. Banyak orang berkata tanpa bisa menjaga diri, padahal kata-kata yang terucapkan harus selalu dipertanggung-jawabkan, yang siapa tahu akan menyeretnya ke dalam kesulitan. Sebelum berkata, kita yang menawan kata-kata, tapi sesudah kata terucapkan kitalah yang ditawan kata-kata kita. Rasulullah bersabda : " Barangsiapa memperbanyak perkataan, maka akan jatuh dirinya. Maka barangsiapa jatuh dirinya, maka akan banyak dosanya. Barangsiapa banyak dosanya, maka nerakalah tempatnya". (HR. Abu Hatim).

 Dari Sahl bin Sa'ad as Saidi, dia berkata: "Barang siapa menjamin bagiku apa yang ada diantara dua tulang rahangnya (lidah) dan yang ada diantara kedua kakinya (kemaluan), niscaya akan aku jamin surga baginya."(HR. Bukhari).

Dalam hadits lain Rasulullah bersabada; "Barangsiap menjaga dari kejahatan qabqabnya, dzabdzabnya, dan laglagnya, niscaya ia akan terjaga dari kejahatan seluruhnya."(HR. Ad Dailami) Yang dimaksud qabqab adalah perut, Dzaabdzab adalah kemaluan, dan Laqlaq adalah lidah.

 Maka tampaknya adalah menjadi wajib bagi siapapun yang ingin membersihkan hatinya, mengangkat derajatnya dalam pandangan Allah Ajjaa Wa Jallaa, ingin hidup lebih ringan terhindar dari bala bencana, untuk bersungguh-sungguh menjaga lisannya. Aktivitas berbicara bukanlah perkara panjang atau pendeknya, tapi berbicara adalah perkara yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan-Nya.

Ada sebuah kisah, suatu waktu ada seseorang bertanya tentang suatu tempat yang ternyata tempat tersebut adalah tempat mangkal "wanita tuna susila". "Dimana sih tempat x ?" Lalu si orang yang ditanya menunjuk ke arah suatu tempat dan hanya dengan "Tuh !", lalu si penanya datang ke sana dan naudzubillah dia berbuat maksiat, di pulang, lalu dia sebarkan lagi kepada teman-temannya, lalu berbondong-bondong orang ke sana, berganti hari, minggu, dan tahun. Maka setiap ada orang yang bermaksiat di sana, orang yang menunjukkan itu memikul dosanya, padahal dia hanya berkata : "Tuh !", cuman tiga huruf. Setiap hari orang berzina di sana, maka pikul tuh dosanya, karena dia telah memberi jalan bagi orang lain untuk bermaksiat dengan menunjukkan tempatnya.

 Jadi waspada, dengan lidah, menggerakkannya memang mudah, tidak perlu pakai tenaga besar, tidak perlu pakai biaya mahal, tapi bencana bisa datang kepada kita. Berbicara itu baik, tapi diam jauh lebih bermutu. Dan ada yang lebih hebat dari diam, yaitu BERKATA BENAR.



 sumber : dari berbagai sumber

Jenius Bukan Tentang IQ, Ini 7 Tanda Kamu Punya Otak di Atas Rata-rata

Apa kamu tahu bahwa mungkin saja kamu jenius?
Bahkan jika kamu berpikir bahwa kamu gak seberapa pintar dan cerdas, kamu bisa saja memiliki banyak karakteristik unik yang dimiliki banyak orang cerdas. Faktanya, ternyata memang banyak orang jenius yang memiliki kebiasaan sama.
Jika ada tanda-tanda di bawah ini yang kamu miliki, sangat mungkin bahwa kamu sebenarnya lebih pintar dari yang kamu kira. Penasaran? Cek yuk!


1. Kamu selalu penasaran terhadap apapun.

Apakah kamu secara bertahap membaca jurnal, mengikuti beberapa blog dan seringkali browsing hanya untuk mengetahui jawaban atas pertanyaanmu? Apakah kamu melakukan eksperimen kecil untuk mengetahui apa yang terjadi, seperti mencampur beberapa bahan makanan ekstra ke dalam masakan buatanmu?
Orang jenius pada dasarnya adalah orang yang selalu ingin tahu. Mereka selalu menemukan pertanyaan dalam kepala mereka dan kemudian berusaha untuk menemukan jawabannya.

2. Kamu sering bicara pada diri sendiri.

Jika kamu seringkali ditertawakan temanmu karena kamu seringkali ketahuan berbicara pada diri sendiri, ini adalah tanda bahwa kamu adalah seorang jenius.
Ketika kamu sedang memikirkan sebuah masalah maka dialog dan ide-ide seringkali muncul tanpa permisi. Semakin intens proses tersebut, maka semakin sering kamu berbicara dengan diri sendiri. Ibaratnya, kamu sering bergumam dalam diam.

3. Melihat buku tak terbaca akan membuatmu sangat gatal.

Banyak orang yang suka membaca buku. Dan orang jenius biasanya terobsesi dengan membaca buku, apapun itu.
Beberapa orang cerdas yang memiliki karakter unik biasanya fokus pada satu jenis buku saja, misalnya fiksi ilmiah atau manga. Namun tak menutup kemungkinan bahwa para jenius ini juga membaca berbagai macam jenis buku.
Tak peduli apa jenis buku kesukaanmu, jika rak bukumu penuh dan kamu selalu mencari hal baru untuk dibaca, kamu masuk ke dalam kategori jenius!

4. Kamu sering menantang batas dirimu sendiri.

Apakah kamu senang bermain logika, kata-kata dan trivia untuk mengetes otakmu? Jika demikian, kamu memiliki satu hal yang dimiliki orang jenius di luar sana. Banyak orang jenius yang senang bermain sudoku dan teka-teki silang sebagai kebiasaan yang selalu mereka lakukan.

5. Kamu pelupa.

Individu yang cerdas biasanya sering melupakan banyak hal karena otak mereka sering dipenuhi oleh banyak hal sehingga kadang mereka menjadi pelupa. Mereka menjadi sibuk dengan berbagai proyek dan ide. Hasilnya, hal-hal sederhana akan terlempar keluar dan dilupakan.
Pernah gak kamu memasuki ruangan dan lupa kenapa kamu ada di sana?
Nah...

6. Kamu memiliki masa lalu yang sedikit berbeda dari orang kebanyakan.

 

7. Kamu seringkali panik dan overthinking terhadap hal yang bahkan belum terjadi.

Mungkin kamu berpikir bahwa orang jenius biasanya penuh percaya diri. Kenyataannya adalah, para jenius biasanya penuh akan keraguan. Mereka tahu bahwa tak akan ada jawaban hitam dan putih, serta kebenaran akan sesuatu biasanya akan terus berubah. Sayangnya, ini juga memicu mereka untuk selalu merasa tak percaya diri.

Sumber : idntimes.com

 

 

7 Ciri Orang Cerdas

Dari mana kita bisa menyimpulkan apakah seseorang itu cerdas atau tidak? Dari penampilannya? Atau dari gaya bicaranya? Ya begitulah, orang terkadang melihat orang lain dari penampilannya saja. Atau dari apa yang terlihat. Banyak yang menilai orang cerdas dari apa yang dia kenakan, status sosialnya ataupun kesuksesannya. Padahal kecerdasan orang terkadang tidak terlihat. Bisa karena dia memang menyembunyikan talenta yang dia punya berupa kecerdasan, atau karena dia memang tidak sadar bahwa dia adalah orang yang cerdas.

Nah berbicara soal orang cerdas, banyak lho orang yang tidak sadar bahwa dia adalah orang cerdas. Dia merasa biasa-biasa saja, atau bahkan memiliki  kemampuan jauh di bawah teman-temannya. Sebaliknya, ada orang yang dari luar kelihatan sangat cerdas. Penampilan meyakinkan, tapi setelah diamati, ternyata apa yang dibicarakan tidak semeyakinkan penampilannya. Ternyata isi kepalanya tidak secerdas yang kita kira. Nah, supaya kita tidak salah dalam membuat penilaian, kita perlu tahu ciri-ciri orang cerdas. Intinya nanti, jika kamu menemukan orang yang memiliki 10 sifat ini, dialah orang cerdas yang sebenarnya! Baik dia sadari ataupun tidak dia sadari.


1. Orang yang rasa penasarannya besar

Orang cerdas selalu merasa ingin tahu tentang hal-hal yang belum dia ketahui. Karena mereka punya rasa penasaran yang sangat besar. Rasa penasaran pula yang mendorong orang-orang penting akhirnya menemukan hal luar biasa. Coba pikirkan, tanpa rasa penasaran, Thomas Alva Edison tidak akan menemukan lampu pijar pertama, Alexander Graham Bell tidak akan menemukan telefon dan Jack Dorsey tidak akan menciptakan twitter, juga Mark Zuckerberg tidak membuat facebook. Mereka adalah orang-orang cerdas di zaman berbeda. Kamu gimana, sering ngerasa penasaran sama sesuatu gak?

2. Orang yang banyak pertanyaan alias banyak nanya.

Banyak yang bilang, orang pintar adalah orang yang selalu bisa memberikan jawaban. Tapi orang cerdas adalah orang yang mencari jawaban. Orang cerdas itu tidak malu untuk tanya. Tidak takut terlihat bodoh. Orang cerdas bahkan sangat menyadari bahwa banyak hal yang tidak dia mengerti. Karena semakin dia tahu, semakin juga dia merasa tidak tahu. Keingintahuannya atas hal yang tidak dia ketahui membuatnya tidak gengsi bertanya kepada siapapun dan apapun yang dia anggap bisa memberikan jawaban.


3. Orang yang gak gampang percaya, suka menyelidiki kebenaran

Orang cerdas biasanya gak gampang percaya sama omongan orang sebelum dia yakin bahwa itu adalah kebenaran. Jadi tidak mudah terhasut, juga tidak mudah dibohongi. Dia punya keingintahuan untuk membuktikan apa yang dia dengar. Dia menggunakan logikanya dalam menerima informasi. Sehingga tidak asal iya-iya dan angguk-angguk saja. Dalam hati kecilnya, dia sering bertanya “Apa iya sih begitu?”


4. Orang yang gak takut salah dan mengakui kesalahan.

“I know one thing: that I know nothing” – Socrates (Socrater mengatakan “Satu hal yang saya tahu: bahwa saya tidak tahu apa-apa”) Seperti itulah sikap orang cerdas. Tapi ketidaktahuannya itu tidak lantas membuatnya takut untuk mencoba sesuatu. Orang cerdas justru punya keberanian untuk melakukan hal baru dan tidak takut salah. Jika pun akhirnya dia melakukan kesalahan, dia tidak akan gengsi untuk mengaku bahwa dia memang salah. Seperti sikapnya yang mengakui ketidaktahuannya.


5. Orang yang berkali-kali gagal dan mampu belajar dari kegagalan

Keberaniannya untuk melakukan hal baru, seringkali membuat orang cerdas mengalami kegagalan. Tapi tak masalah, memang seperti itulah orang cerdas. Sering gagal, tapi lebih sering lagi belajar dari kegagalan. Toh Larry Page, harus berkali-kali melakukan percobaan sampai bisa membuat Google, begitu pula dengan Steve jobs, si Cerdas pembuat Apple. Jadi tak masalah jika kita gagal, sejauh kita belajar dari kegagalan itu.


6. Orang yang punya selera seni

Dr. Gordon Shaw seorang profesor Emeritus of Physics di UC-Irvine dan Dr. Frances Rauscher seorang profesor dari University of Wisconsin Oshkosh pernah melakukan penelitian terkait pengaruh mendengarkan terhadap otak. Hasilnya, diketahui bahwa mendengarkan musik dapat menyehatkan otak dan sistem syaraf. Itulah sebabnya, kebanyakan orang cerdas adalah orang yang menikmati musik. Kalaupun bukan musik, bisa juga cabang seni lain. Misalnya seni lukis, atau menari. Seperti artikel saya sebelumnya yang menyebutkan bahwa orang yang suka menari cenderung punya otak cerdas.

7. Orang yang mikir dulu sebelum bicara. Gak asal omong

Sebelum bicara, pikir dulu coy! (thepeacefulbirthproject.org)

Orang cerdas biasanya akan mikir dulu sebelum ngomong. Sehingga dia akan memastikan bahwa yang dia katakan adalah benar, tidak menyakitkan dan bermanfaat. Dia juga tahu kapan harus ngomong, kapan harus diam. Kalau dirasa apa yang dibicarakan belum tentu benar, tidak ada manfaatnya dan menyakiti orang lain, dia akan memilih untuk diam. Seperti itulah orang cerdas yang sebenarnya, tidak hanya memakai kepala tapi juga perasaan.


sumber : isigood.com

 

 

5 Hal Ini Dirasakan Oleh Pemilik IQ Tinggi

Banyak dari kamu yang belum bisa memahami karakter dan  jalan pikiran orang yang pintar. Mereka seolah hidup di dunianya sendiri. Sebagian besar orang menganggapnya aneh. Kenapa bisa demikian? Karena ia terlalu pintar. Apa saja sih yang bisa dilihat dari ciri-ciri orang terlalu pintar? Simak yuk.

1. Sering berpikir Keras

Kamu suka memikirkan sesuatu hal terlalu dalam kemudian mencarinya. Tentu saja hal ini membuatmu kurang suka berbicara. Apalagi jika ada hal baru dan menarik, langsung saja kamu akan melakukan riset secara mandiri. Untuk mengutarakan pendapat dan opini sangat membutuhkan waktu lama. Di sinilah orang-orang akan menganggapmu aneh dan terlalu kutu buku demi hal yang menurut mereka sepele. Walaupun demikian, kamu juga bisa berteman, kok. 

2. Mudah Bosan Dengan Satu Pekerjaan

Jika ada pekerjaan atau kegiatan yang menurutnya lebih menarik, nggak jarang ia meninggalkan pekerjaan lama. Kreativitasnya akan membawanya pada tantangan yang lebih baru lagi. Kamu pun nggak bisa mencegahnya tanpa alasan yang benar-benar logis. Wajar saja kalau ia mengincar beberapa posisi yang menurut teman kerja sangat berisiko. Menyelesaikan pekerjaan pun kamu nggak terlalu suka berlama-lama. Atasanmu juga agak kesulitan untuk menanganimu.

3. Kikuk di Lingkungan Sosial

 Ini adalah hal yang wajar terjadi dan kamu alami apabila harus bertemu dengan orang banyak. Karena, kebiasaanmu menyendiri dan lebih suka melakukan kegiatan sendiri. Kamu akan senang apabila harus ngobrol dengan satu atau dua orang saja. Kamu bukanlah orang yang kurang menyenangkan, hanya saja mereka butuh sedikit waktu untuk memahami bahwa kamu punya karakter yang unik. Sedangkan kamu akan berusaha untuk menikmati keramaian.

4. Kurang Menyenangi Percakapan Kecil

Ini yang paling sering kamu rasakan. Biasanya orang akan sedikit melakukan percakapan kecil untuk mengakrabkan dirinya. Tapi, berbeda dengan kamu. Itu hanya membuang-buang waktu. Kamu suka sekali dengan percakapan seperti bertukar pikiran mengenai topik-topik khusus. Kalau kamu bertemu dengan teman yang mengajakmu ngobrol dengan suatu topik, kamu akan antusias sekali. Poin ini menjadi salah satu alasan bahwa kamu kurang bisa membaur dengan lingkungan sosial.

5. Sulit Jatuh Cinta

Bagi kebanyakan orang, poin ini nggak akan habis untuk dibahas. Tetapi, kamu lebih memilih mengabaikan. Alasannya cukup sederhana, kamu terlalu sibuk dengan hal yang kamu sukai. Kamu juga selalu menganalisa segala fenomena yang terjadi. Kamu bisa jatuh cinta dengan orang yang punya pemikiran yang sangat unik sehingga kamu tertarik untuk mendekatinya. Mengoreksi setiap perlakuan yang kamu berikan pun akan kamu lakukan. 


sumber : https://career.popbela.com 
 


Orang Sombong Takabur Ujub Dalam Islam

Salah satu penyakit hati dalam diri manusia yang dapat menutup jalan hidayah Allah swt adalah sifat sombong atau takabur. Orang Sombong Dalam Islam adalah Penyakit yg bisa melanda seluruh lapisan masyarakat, dari yang kaya sampai yang miskin, orang alim dan bodoh, yang muslim maupun non muslim, dan lain-lainnya.Sombong adalah watak utama dari Iblis, sebagaimana yang diterangkan dalam banyak ayat dalam Al- Qur’an. Sifat sombong memang bisa hinggap pada siapapun, namun yang lebih dominan adalah mereka yang mempunyai banyak potensi

Pengertian Sombong / Takabur
Takabbur secara bahasa artinya sombong atau membanggakan diri. Orang sombong selalu membanggakan dirinya, sehingga lupa bahwa semua yang dimilikinya hanyalah karena karunia Allah SWT semata. Dan karunia itu harus disyukuri bukan untuk dibangga-banggakan kepada orang lain.
Sedangkan menurut istilah takabur adalah sikap merasa dirinya lebih dari pada orang lain dan memandang rendah orang lain serta tidak mau taat/ tunduk kepada Allah SWT. Penyebab sikap takabur : harta, kedudukaan ,ilmu & keturunan.
Sifat takabbur hampir sama dengan sifat ujub. Dimana sifat ujub adalah menganggap kelebihan yang ada pada dirinya adalah atas usahanya sendiri. Sedangkan sifat takbbur mengganggap dirinya lebih mampu dan meremehkan orang lain.

Jenis-jenis Takabur
Takabur secara umum terdiri dari  3 jenis yaitu :
  1. Takabur kepada Allah swt, sebagaimana yang dilakukan oleh Raja Namrud, Raja Fir’aun dan Abu Lahab.
  2. Takabbur kepada Rasulullah saw sehingga jauh dari taat kepada ajaran dan perilaku Rasulullah saw.
  3. Takabbur kepada sesama makhluk Allah swt, seperti takabbur karena memiliki harta yang banyak, ilmu, amal, dan nasab dihadapan orang lain.
Ciri ciri orang sombong
Diantara ciri-ciri manusia yang suka berperilaku sombong/ takabbur adalah sebagai berikut :
  1. Sikap memuji diri, Sikap ini muncul karena merasa dirinya memiliki kelebihan harta, ilmu pengetahuan, dan keturunan atau nasab. Oleh karena itu ia merasa lebih hebat dibanding orang lain.
  2. Merendahkan dan meremehkan orang lain, Sikap ini bisa diwujudkan dengan mamalingkan muka ketika bertemu dengan orang lain yang dikenalnya, karena merasa lebih baik dan lebih hebat darinya.
  3. Suka mencela dan membesar-besarkan kesalahan orang lain, Orang yang takabbur selalu menyangka bahwa dirinyalah yang benar, baik, dan mulia serta mampu malakukan segala sesuatu. Sedangkan orang lain dianggap rendah, kecil, hina dan tak mampu berbuat sesuatu. Bahkan orang lain dimatanya selalu berbuat salah.
  1.  Bahaya Sikap Takabur :
  1. Sikap tercela yang sangat dibenci oleh Allah SWT ( Q.S. An Nisa : 36 )
  2. Dibenci oleh orang lain karena keangkuhannya ( Q.S. Lukman ayat 18 )
  3. Dapat mematikan hati manusia ( Q.S. Al Mukmin ayat 35 )
  4. Tidak mensyukuri nikmat Allah SWT ( Q.S. Al Israa ayat 83 )
  5. Akan dimasukan ke dalam neraka ( Q.S. An Nahl ayat 29 )
  1. Cara Menjauhi Sikap Takabur
  1. Membiasakan diri dengan perilaku terpuji. Jika urusan dunia atau rezeki lihatlah manusia yang berada dibawah. Jika urusan akherat lihatlah manusia yang ada diatas tingkat kedekatannya dengan Allah swt.
  2. Membersihkan hati dari sikap takabbur dengan cara memperbanyak zikir kepada Allah swt.
  3. Memperbanyak sahabat, sehingga dengan semakin banyak sahabat akan semakin tahu sisi kehidupan lain dari sahabatnya.

Menurut Imam Al- Ghazali ada tujuh kenikmatan yang menyebabkan seseorang memiliki sifat takbbur yaitu :
  1. Ilmu pengetahuan,  orang yang berilmu tinggi atau berpendidikan tinggi merasa dirinya orang yang paling pandai bila dibandingkan dengan orang yang tidak berilmu atau berpendidikan
  2. Amal ibadah yang tidak jelas dapat menyebabkan sifat takabbur apalagi bila mendapat perhatian dari orang lain
  3. Kebangsawanan, dapat menyebabkan takabbur karena menganggap dirinya lebih tinggi derajadnya daripada kelompok atau kasta lain
  4. Kecantikan dan ketampanan wajah, menjadikan orang merendahkan orang lain dan berperilaku sombong
  5. Harta dan kekayaan, dapat menjadikan orang meremehkan orang miskin
  6. Kekuatan dan kekuasaan, dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya ia dapat berbuat sewenang-wenang terhadap orang lain tanpa melihat statusnya
  7. Banyak pengikut, teman sejati, karib kerabat yang mempunyai kedudukan dan pejabat-pejabat tinggi.
Semoga dari penjelasan di atas kita menjadi tahu tentang apa itu sombong dalam islam dan menjaga diri dari sifat sombong dalam hidup kita .

Dikutip dari mutiaraislam.web.id

9 Cara Orang Cerdas Tak Terpengaruh Teman 'Beracun'

Dalam hidupmu, kamu pasti akan bertemu dengan banyak orang dengan berbagai macam kepribadian dan karakter. Ada yang mungkin memberimu pengaruh positif, dan ada pula yang negatif. Kamu pasti suka dengan teman-teman yang memberi pengaruh positif, tapi susah rasanya menghadapi orang-orang yang memberi pengaruh negatif.
Keduanya butuh dihadapi dengan pikiran yang dewasa. Lalu bagaimana caranya agar kamu tak terpengaruh dengan orang-orang yang 'beracun' seperti itu? Ini cara cerdas menghadapinya.
  • Abaikan si pencari perhatian

    Biasanya, di dalam kelompok orang-orang 'beracun' selalu ada ketuanya. Dia yang jadi pusat dari segala omongan buruk dan asal segala hal negatif. Acuhkan saja si pencari perhatian ini daripada sakit hati sendiri.
  • Jangan menceritakan rahasia ke para penggosip

    Salah satu orang yang tak bisa dipercaya adalah mereka para penggosip. Jika kamu bertemu orang yang suka membicarakan orang lain, di belakang orang tersebut, jangan berpikir kamu tidak akan mengalami hal yang sama. Ia pasti juga akan membicarakan dirimu saat kamu tak ada. Jadi jangan berbagi cerita rahasia apa pun mengenai dirimu.
  • Habiskan waktu dengan teman-temanmu yang menyenangkan

    Daripada berdiam diri dan mendengar banyak omongan tak enak tentang dirimu atau orang-orang mulai menghindarimu dan tidak menyapamu karena pengaruh si teman 'beracun', sebaiknya kamu juga mulai cari udara segar, habiskan waktu dengan teman-teman yang menyenangkan.
  • Hindari orang-orang yang manipulatif

    Beberapa orang dengan mulut manis namun manipulatif biasanya disukai beberapa orang, tapi jangan sampai kamu juga ikut terjerumus ke dalam lingkaran pertemanan mereka. Kamu cukup mengenal siapa mereka, tetap bersikap baik pada mereka.
  • Biarkan dan abaikan sindiran dan omongan miring

    Kamu pasti akan sakit hati mendengar dan melihat sikap mereka yang menyebalkan, apalagi ketika mereka tak menganggapmu. Well, abaikan saja, kamu hidup untuk bahagia kan? Jadi biarkan saja mereka tetap bicara, menyindir, membicarakan keburukanmu dan lain sebagainya.
  • Jangan terpancing, Kendalikan emosi

    Selalu kendalikan emosi saat berada di dekat mereka. Kamu tahu mereka akan memberi pengaruh tak baik, dan hanya membuang-buang waktu jika kamu harus memasukkan semua omongan mereka ke dalam hatimu. Tak usah terpancing. Biarkan berlalu seperti kentut.
  • Jangan mau di-bully

    Kamu dilahirkan bukan untuk diremehkan dan di-bully. Ketika kamu mulai menerima perlakuan seperti ini, lawan. Pertama, biarkan saja mereka mau ngomong apa. Kedua, berjalanlah tegak dan percaya diri. Ketiga, pasang wajah cuek dan 'jahat', dan mereka akan benci sendiri melihat sikapmu, karena kamu tak terpengaruh sama sekali.
  • Selalu bersikap baiklah pada mereka dan jadilah bahagia

    Jangan pernah membalas mereka dengan perlakukan buruk, ini menjadikanmu sama buruknya. Meski memang sangat kesal, tetap bersikap baiklah, apalagi ketika mereka tiba-tiba ada butuhnya sama kamu. Beri saja bantuan, itu menunjukkan bahwa mereka munafik. Kamu akan tertawa sendiri nantinya.
  • Keluar dari lingkungan tersebut

    Tak kuat dengan tindakan dan omongan mereka? Cara terbaik menghindarinya adalah keluar dari lingkungan tersebut. Tak ada gunanya terus-terusan di situ. Hanya jadi sumber stres.

Apapun yang kamu hadapi dalam hidup, kamu pasti akan belajar banyak tentang semua itu, termasuk ketika bertemu 'teman-teman beracun'. Selalu ambil sisi positifnya dan jadilah lebih dewasa ya Ladies.



myirmagination.blogspot.com
sumber :  vemale.com

Kamis, 19 Juli 2018

GOSSIP Gosip Apa Itu?


GARA-GARA GOSSIP, hidupmu bisa lebih penuh intrik daripada film atau sinetron.


Apakah gossip itu selalu jelek? Hal itu bergantung pada bagaimana kamu mendefinisikan ”gosip”. Jika kata itu sekadar memaksudkan obrolan santai yg berisi informasi yang berguna, misalnya siapa yang mau menikah atau yang baru punya bayi mungkin tidak ada salahnya.
Akan tetapi, obrolan santai dapat dengan mudah berbelok menjadi gosip yang merugikan. Misalnya, komentar yang polos bahwa ”Ujang dan Susi pasti serasi kalau mereka berpacaran” mungkin diceritakan lagi menjadi ”Ujang dan Susi sedang berpacaran”​—padahal Ujang dan Susi tidak punya perasaan apa-apa terhadap satu sama lain. Mungkin, menurutmu, ’Ini kan bukan problem serius’​—kecuali, tentu saja, jika kamu adalah Ujang atau Susi!

Yuli, 18 tahun, pernah menjadi korban gosip, sehingga ia sakit hati. ”Aku marah sekali,” katanya, ”dan aku jadi sulit mempercayai orang lain."

Salah tiga fungsi dari gossip :
  • Menghibur, gossip adalah suatu hiburan tersendiri.
  • Mengembangkan cerita. Bumbu adalah suatu penyegar dalam gossip. Cerita yang jujur bisa berkembang menjadi sebuah cerita dengan sejuta bumbu.
  • Meningkatkan status sosial, sudah barang tentu siapa yang lebih sering digosipkan, dialah yang paling populer 😋
Kejelekan gossip adalah saat gossip itu dianggap sebagai suatu kebenaran. Kita selalu melihat bias karena informasi yang kita dapat tidak lengkap (hanya dari sebelah pihak, tidak menyeluruh) atau telah corrupt (ada fakta atau data yg hilang atau sengaja dihilangkan). Hal ini dikarenakan informasi yang menyebar seringkali tidak obyektif dan reliable (lidah tak bertulang gaes!).
Seringkali gossip bersifat merusak karena berasal dari sumber yang seakan-akan dapat dipercaya dengan fakta yang seakan kuat, sehingga gossip itu diterima sebagai informasi.

Dalam bentuk extrem hal ini dapat berupa hoax, fraud, atau disinformation.
Gosip yang mencelakakan itu seperti senjata berbahaya yang dapat menghancurkan reputasi orang lain.

”Orang yang menjaga mulutnya memelihara jiwanya. Orang yang membuka lebar bibirnya​—ia akan menemui kebinasaan.”

TIPS
Jika kamu mendengar gosip, kamu bisa menanggapi dengan mengatakan, ”Rasanya tidak enak membicarakan hal ini. Lagi pula, orangnya tidak di sini untuk membela diri.”

TAHUKAH KAMU . . . ?
Mendengarkan gosip saja sudah bisa membuatmu punya andil. Dengan mengizinkan si penggosip terus berbicara, kamu membiarkan informasi itu menyebar dengan kecepatan penuh!


Gimana Cara Membuat Gossip?
Prinsip dasar sebuah gossip sama dengan prinsip dasar berbohong.
  1. Pilih topik yang sedang in, hangat dan terbaru
  2. Cukup menyimpangkan sedikit dari fakta yang ada (disinformasi)
  3. Sembunyikan fakta yang melemahkan.
  4. Tegaskan fakta yang meyakinkan walaupun spekulatif atau mengada-ada.
  5. Jika gossip itu tanpa dasar kembangkan dengan se-ekstrim dan sebesar mungkin. Main klaim tanpa dasar yang kuat bisa dilakukan
  6. Kasih referensi yang seakan kuat tapi susah dicrosscek.
  7. Sebarkan melalui sumber yang bisa dipercaya.
  8. Jangan pernah meragukan kebohonganmu.
  9. Jika kebohongan itu bisa meyakinkanmu itulah kebohongan sejati 😋
Setelah anda mahir membuat gossip maka jangan disalahgunakan ya…
Jika anda berhasil membuat beberapa gossip, maka anda pantas mendapatkan predikat sebagai Biang Gossip. Yess!
 


Senin, 25 Oktober 2010

5 Orang Jenius yang Memiliki Gangguan Mental

Sir Isaac Newton (1642 – 1727)

Dengan begitu banyaknya kontribusi di bidang fisika dan mekanika, Sir Isaac Newton terkenal sebagai pemikir ulung. Memang, dari berbagai jajak pendapat mengenai kedua ilmuwan ini menunjukkan bahwa publik sepakat kalau Newton bahkan melebihi Einstein dalam hal pengaruh. Menurut ensiklopedia Britannica Newton mengalami psychotic tendencies dan mood swings. Selain itu, berbagai surat yang dibuatnya menyimpulkan bahwa secara teoritis ia menderita skizofrenia


Ayah Newton meninggal sebelum ia lahir, dan ia dipisahkan dari ibunya antara usia dua dan 11.Gangguan mental yang dialaminya mungkin akibat dari trauma yang berkepanjangan akibat masa kecilnya.

Edgar Allan Poe (1809 – 1849)

Terkenal dari puisinya yang berjudul “The Raven” Edgar Allan Poe, seorang penulis yang sering mengarang kisah-kisah detektif dan cerita horror. Ia memiliki gaya penekanan yang kuat dan terstruktur dalam cerita-ceritanya. “The Murders in the Rue Morgue”, yang terbit tahun 1841, disebut-sebut sebagai kisah modern detective pertama.

Sekalipun memiliki skill menulis, Poe terkenal sebagai seorang pemabuk, dari surat-suratnya terungkap bahwa ia bermasalah dengan suicidal thoughts. Tidak ada yang tahu penyebab dan banyak hal mengenai kematiannya di umur 40 tahun, tapi mungkin karena sakit jantung yang disebabkan kebiasaannya yang suka mabuk itu.

Berdasarkan pengamatannya pada surat-surat Poe, Kay Redfield Jamison berspekulasi bahwa Poe mengidap manic-depressive, atau yang sekarang disebut bipolar disorder.

Di dalam bukunya, dia beranggapan kreatifitas yang dimiliki seorang Poe berkembang dari sebuah kegilaan. Dia menulis “mind-sickness dapat memunculkan cosmic-perspectif yang membuahkan kreatifitas mengalir deras”.

Ludwig van Beethoven (1770 – 1827)

Kontribusi Beethoven di dunia musik sangat monumental. Kegairahannya dan musikalitasnya yang begitu intensif dan cemerlang membawa musik instrumental ke jenjang yang baru. Namun, sang komposer memiliki kehidupan yang sukar. Ayahnya seorang pemabuk berat dan besar dalam keluarga yang tidak harmonis sampai umur 18 tahun.

Satu masalah tragis yang dihadapinya adalah bahwa ia harus mulai kehilangan pendengarannya sejak berumur sekitar 30 sampai 49 tahun, yang sepertinya dampak dari pemukulan yang dilakukan ayahnya. Hebatnya, ia justru sanggup menggubah karya2 masterpeace-nya saat ia benar-benar tuli.

Beethoven beberapa kali menuliskan sejumlah surat kepada saudaranya, banyak dari tulisan itu menceritakan keinginannya untuk bunuh diri.

Francois Martin Mai berpendapat bahwa sang maestro terindikasi mengidap bipolar depression, hal itu dituliskannya dalam buku “Diagnosing Genious”. Mai juga menduga kuat bahwa Beethoven banyak menghabiskan masa hidupnya mengidap bipolar disorder.

Vincent van Gogh (1853 – 1890)

Lukisan-lukisan Vincent van Gogh , seperti “Starry Night” dengan cepat dikenali dari keunikan dan ekspresi sapuan kuas. Namun, itu tidak membuat van Gogh mendapatkan popularitas sampai pada kematiannya. Tetapi sekarang ia dianggap salah satu yang terbesar dalam sejarah pelukis

Kehidupan Van Gogh sangatlah tersiksa. Hampir semua orang mengenalnya sebagai seorang pelukis yang memotong sebagian telinganya sendiri. Dia diduga kuat pernah “mabuk” terpentin dan pernah mencoba makan cat . Tragisnya, ia bunuh diri pada tahun 1890.

Penulis D. Jablow Hershman dan Dr Julian Lieb mengatakan dalam buku mereka “Manic Depresi dan Kreativitas” bahwa van Gogh telah mengalami bipolar disorder. Dalam bukunya “Touched with Fire” Dr Kay Redfield Jamison menemukan kesimpulan yang sama.

Dia juga membahas seni van Gogh dalam hubungan dengan penyakit mental. Misalnya, ia mencatat bahwa pola musiman yang khas dari suasana hati dan psikosis sejajar dengan produktivitas van Gogh, yang juga bervariasi oleh musim. Sedangkan yang lain mengira ia menderita skizofrenia.

John Nash (1928)

Pemenang penghargaan film “A Beautiful Mind” mempopulerkan cerita tentang John Nash. Nash adalah seorang matematikawan terkenal di dunia yang berjuang dengan skizofrenia paranoid setelah datang dengan kontribusi yang signifikan pada konsep “game theory”.

Ide dari “Nash Equilibrium,” yang membahas apakah para pemain dalam sebuah permainan bisa mendapatkan keuntungan jika salah satu dari mereka perubahan strategi, dapat diterapkan pada berbagai bidang, termasuk ekonomi. Militer AS bahkan telah mengadopsi berbagai teknik dari idenya pada Perang Dingin

Walaupun film (berdasarkan biografi Sylvia Nasar dengan nama yang sama) bebas bercerita tentang kehidupan Nash, dia mengalami halusinasi dan delusi. Halusinasi nya termasuk mendengar suara-suara, tetapi tidak melihat orang-orang atau hal-hal yang tidak ada di sana.

Dia mulai memiliki delusi keagungan dan percaya bahwa dia akan termasuk dalam tokoh-tokoh dunia.

Setelah menghabiskan sekitar 30 tahun berjuang dengan kekacauan dan menghabiskan waktu masuk dan keluar dari rumah sakit, ia mulai pulih secara signifikan pada akhir 1980-an.

Pada tahun 1994, John Nash menerima Penghargaan Nobel dalam Ilmu Ekonomi untuk karya awalnya dengan “game theory”.

sumber: kaskus.us

Disqus for MaTaDaGa